Blog Gw Pindah!!!

October 26th, 2007 by riswandi-2206

ini alamat barunya http://riswandisjournal.info atau http://understeering.wordpress.com

salam,

8 kebohongan seorang ibu,……….. betapa berartinya orang tua qt

December 1st, 2006 by riswandi-2206

Showletter21 Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir

sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang
miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali
kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku,
ibu berkata : "Makanlah nak, ibu tidak lapar"
———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA —————

Ketika saya mulai tumbuh lebih besar, ibu yang gigih
sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi
memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan
hasil pancingan bisa memberikan sedikit makanan
bergizi untuk petumbuhanku. Sepulang memancing, ibu
akan memasak ikan yang segar dan mengundang selera.
Sewaktu aku memakan ikan itu, ibu duduk disampingku
dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di
tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku
makan. Aku melihat ibu seperti itu, hatiku juga
tersentuh, lalu aku memberikan ikanku kepada ibuku.
Tetapi ibu dengan cepat menolaknya sambil berkata :
"Makanlah nak, ibu tidak suka makan ikan"
———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA——————

Ketika aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah
abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa
sejumlah makanan untuk dititipkan, dan dari hasil
titipan itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi
kebutuhan hidup. Di tengah malam tiba, aku bangun dari
tempat tidurku, dan melihat ibu masih memasak makanan
yang akan dititipkan besok, dan dengan gigihnya
melanjutkan pekerjaannya. Aku berkata :"Ibu, tidurlah,
sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja di
sawah." Ibu tersenyum dan berkata: "Cepatlah tidur
nak, ibu tidak capek"
———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA ————————

Ketika ujian tiba, ibu sementara berhenti kerja supaya
dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang,
terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan
gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi,
menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera
menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan
dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu
kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang
yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri
peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil
menyuruhnya minum. Ibu berkata :"Minumlah nak, ibu
tidak haus!"
———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT————–

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang
harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan
berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus
membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga
kami pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa
penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin
parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal
di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar
maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah
rumah melihat kehidupan kami yang sengsara,
seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi
ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan
nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta"
———-KEBOHONGA N IBU YANG KELIMA————-

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat
dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah
waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk
pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku
yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit
uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu
bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Ibu
berkata : "Ibu masih punya uang"
———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM————–

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2
dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah
universitas ternama berkat sebuah beasiswa di sebuah
perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan
itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud
membawa ibuku untuk menikmati hidup yang lebhi dari
biasa. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau
merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Ibu tidak
terbiasa"
———-KEBOHONGA N IBU YANG KETUJUH———–

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena
penyakit komplikasi dan harus dirawat di rumah sakit.
Aku yang berada jauh di seberang samudra langsung
segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku
melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah
menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua,
menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum
yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena
sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa
penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku
terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku
sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali
melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu
dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, Ibu
baik-baik saja"
———-KEBOHONGA N IBU YANG KEDELAPAN————–

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan,
ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir
kalinya.

Renungan ….
- Sudah berapa lamakah kita tidak berkomunikasi dengan
   ayah ibu kita?
- Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu
   kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita?, Di
   tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita
   selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan
   ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan
   ayah dan ibu yang ada di rumah. Malah kadang jika
   dibandingkan dengan rekan kita, kita pasti lebih
   peduli dengan rekan kita.
- Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita? - - - Cemas apakah mereka sudah makan atau belum?
- Cemas apakah mereka sudah bahagia atau belum?
- Apakah ini benar?
   Kalau ya, mari kita renungkan kembali lagi………….
   Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas
   budi mereka, mari lakukanlah yang terbaik. Jangan
    sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.

    I Love You Mom and Dad

Alkisah Jam

November 15th, 2006 by riswandi-2206
Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?". "Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?". "Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?" "Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan. "Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?" "Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya. Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam."Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?". "Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias. Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik.
Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.
Renungan : Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya. Kata Bijak Hari Ini. Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah, dan air mata. Tetapi ukuran sejati di bawah mentari adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.
from : Deank

go.Blog

November 12th, 2006 by riswandi-2206

   
Kalau setiap orang bisa bikin blog. lantas siapa yang baca selain si penulis dan sebagian
Img136 teman-temannya? Untuk kasus Indonesia: kalau biaya koneksi dial-up masih mahal, siapa yang mau buang pulsa dan berboros kuota durasi koneksi demi teks bertele-tele tentang sakit hati ditinggal pacar?
 
    Maka kaum sinis akan bilang, "Blog itu mainan orang goblog yang eksibisionis…".  Bagi mereka, milis lebih enak karena jelas siapa saja penerimanya, meski belum tentu menyimaknya.  Chatting juga lebih mengena, karena real time. 

    Blog, apalagi tanpa dukungan laporan statistik web dan tagboard maupun kotak komentar, hanya membuat si penulis merasa telah berpidato di depan khalayak, padahal yang dilihatnya cuma baliho raksasa bergambar kerumunan orang.
   

    Tapi, kenapa blog terus bermunculan ? Apa karena banyak orang sakit jiwa, merasa tak punya teman yang bisa diajak ngobrol tatap muka ? Mungkin.
   Ada juga kemungkinan lain, semisal tersalurnya isi lamunan yang didapat saat duduk di atas kloset.  Pikiran itu boleh jadi jenial dan ilhami, tapi dunia (dan media) kan sering tidak adil karena lebih mendahulukan siapa yang menyatakan, bukan apa yang dinyatakan.  Sama-sama soal louhan mati di akuarium, kalau yang meratap di blog adalah Bill Gates tentulah lebih bernilai ketimbang saya yang melolong.
   

    So? Jangan terlalu berharap dari blog.  Bikin dan isilah dengan target super-rendah: supaya ada pihak yang menyimpankan isi hati dan benak kita, sekalian agar kita belajar menulis secara efektif.  Dibaca dan ditanggapi orang, itu hasil, bukan tujuan.
   

    Dari arsip blog kita bisa mengevaluasi mutu tulisan dan kelengkapan pikiran kita.  Kalau salah tinggal kita koreksi.  Kalau malu dan menyesal tinggal kita hapus entrinya, bila perlu blognya sekalian.  O ya, cuek aja kalau dibilang goblog.

(from : komputeraktif77)